[LAPORAN PENELITIAN] Manajemen Wayang Krucil Mbah Gandrung

Authors

  • Rini Astuti Universitas Gajayana Malang Author
  • Yosar Haritsar Universitas Gajayana Malang Author

Abstract

Wayang Krucil memiliki daerah persebaran terutama di Jawa Timur, khususnya di wilayah Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Malang, dan Blitar. Selain itu, kesenian ini juga ditemukan di daerah perbatasan Jawa Tengah. pertunjukan Wayang Krucil kini semakin jarang dijumpai. Jumlah dalang yang tersisa hanya beberapa orang dengan usia yang sudah lanjut. Saat ini, Wayang Krucil umumnya hanya dipentaskan dalam acara nyadran dan lepas nadar, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan kesenian tersebut (Kompasiana, 24 Januari 2026).

Lebih fokus lagi pada Wayang Mbah Gandrung, sebuah kesenian asal Desa Pagung di lereng Gunung Wilis ini memang tidak seperti wayang kulit pada umumnya. Bahan dasar wayang yang digunakan bukan dari kulit, tetapi dari kayu yang pipih, sehingga disebut wayang krucil. Tidak seperti wayang kulit umumnya, wayang krucil ini mungel apabila ada konsumen yang mempunyai nazar. Nazar adalah janji berbuat sesuatu jika apa yang diinginkan tercapai. Artinya, hanya orangorang yang punya nazar saja yang
boleh nanggap atau meminta Wayang Mbah Gandrung tampil.

Author Biographies

  • Rini Astuti, Universitas Gajayana Malang

    Program Pascasarjana

  • Yosar Haritsar, Universitas Gajayana Malang

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Downloads

Published

2026-08-14

Issue

Section

Articles